Jumat, 05 Februari 2010
Kepala Ikan untuk Sang Nelayan
Nelayan itu lalu berguru kepada syaikh besar sufi, Ibn Arabi. Seiring dengan berlalunya waktu, ia pun menjadi seorang syaikh seperti gurunya. Suatu saat, salah seorang murid sang nelayan akan mengadakan perjalanan ke Spanyol. Nelayan itu memintanya untuk mengunjungi Syaikhul Akbar, Ibn Arabi. Nelayan itu berpesan agar dimintakan nasihat bagi dirinya. Ia merasakan kebuntuan dalam jiwanya.
Pergilah murid itu ke kota kediaman Ibn Arabi. Kepada penduduk setempat, ia menanyakan tempat tinggal sang syaikh. Orang-orang menunjukkan kepadanya sebuah puri indah bagai istana yang berdiri di puncak suatu bukit. "Itulah rumah Syaikh," ujar mereka.
Murid itu amat terkejut. Ia berfikir betapa amat duniawinya Ibn Arabi dibandingkan dengan gurunya sendiri, yang tak lebih dari seorang nelayan sederhana. Dengan penuh keraguan, ia pun pergi mengunjungi rumah mewah yang ditunjukkan.
Sepanjang perjalanan ia melewati ladang-ladang yang subur, jalanan yang bersih, dan kumpulan sapi, domba, dan kambing. Setiap kali ia bertanya kepada orang yang dijumpainya, selalu ia memperoleh jawaban bahwa pemilik dari semua ladang, lahan, dan ternak itu tak lain ialah Ibn Arabi. Tak henti-hentinya ia bertanya kepada diri sendiri, bagaimana mungkin seorang materialistik seperti itu boleh menjadi seorang guru sufi.
Ketika tiba ia di puri tersebut, apa yang paling ditakutinya terbukti. Kekayaan dan kemewahan yang disaksikannya di rumah sang syaikh tak pernah ia bayangkan, bahkan dalam mimpinya. Dinding rumah itu terbuat dari marmer, seluruh permukaan lantainya ditutupi oleh karpet-karpet mahal. Para pelayannya mengenakan pakaian dari sutra. Baju mereka lebih indah dari apa yang dipakai oleh orang terkaya di kampung halamannya.
Murid itu meminta untuk bertemu dengan sang syaikh. Pelayan menjawab bahwa Syaikh Ibn Arabi sedang mengunjungi khalifah dan akan segera kembali.
Tak lama kemudian, ia menyaksikan sebuah arak-arakan mendekati puri tersebut. Pertama muncul pasukan pengawal kehormatan yang terdiri dari tentara khalifah, lengkap dengan perisai dan senjata yang berkilauan, mengendarai kuda-kuda Arabia yang gagah.
Lalu muncullah Ibn Arabi dengan pakaian sutra yang teramat indah, lengkap dengan surban yang lazim dipakai para sultan. Si murid lalu dibawa menghadap Ibn Arabi. Para pelayan yang terdiri dari para pemuda tampan dan gadis cantik membawakan kue-kue dan minuman.
Murid itu pun menyampaikan pesan dari gurunya. Ia menjadi tambah terkejut dan geram ketika Ibn Arabi mengatakan kepadanya, "Katakanlah pada gurumu, masalahnya adalah ia masih terlalu terikat kepada dunia."
Tatkala murid itu kembali ke kampungnya, guru nelayan itu dengan antusias menanyakan apakah ia sempat bertemu dengan syaikh besar itu. Dipenuhi keraguan, murid itu mengaku bahwa ia memang telah menemuinya. "Lalu," tanya nelayan itu, "apakah ia menitipkan kepadamu suatu nasihat bagiku?"
Pada awalnya, si murid enggan mengulangi nasihat dari Ibn Arabi. Ia merasa amat tak pantas mengingat betapa berkecukupannya ia lihat kehidupan Ibn Arabi dan betapa berkekurangannya kehidupan gurunya sendiri. Namun karena guru itu terus memaksanya, akhirnya murid itu pun bercerita tentang apa yang dikatakan oleh Ibn Arabi.
Mendengar itu semua, nelayan itu berurai air mata. Muridnya tambah kehairanan, bagaimana mungkin Ibn Arabi yang hidup sedemikian mewah, berani menasihati gurunya bahwa ia terlalu terikat kepada dunia.
"Dia benar," jawab sang nelayan, "ia benar-benar tak peduli dengan semua yang ada padanya. Sedangkan aku, setiap malam ketika aku menyantap kepala ikan, selalu aku berharap seandainya saja itu seekor ikan yang utuh.
Sumber : Kisah Para Sufi
Sebuah Kalung
Tapi... Dia tahu, pasti Ibunya akan berkeberatan. Seperti biasanya, sebelum berangkat ke supermarket dia sudah berjanji tidak akan meminta apapun selain yang sudah disetujui untuk dibeli. Dan tadi Ibunya sudah menyetujui untuk membelikannya kaos kaki ber-renda yang cantik.
Namun karena kalung itu sangat indah, diberanikannya bertanya. "Ibu, bolehkah Anisa memiliki kalung ini? Ibu boleh kembalikan kaos kaki yang tadi... " Sang Bunda segera mengambil kotak kalung dari tangan Anisa. Dibaliknya tertera harga Rp. 15,000. Dilihatnya mata Anisa yang memandangnya dengan penuh harap dan cemas.
Sebenarnya dia bisa saja langsung membelikan kalung itu, namun ia tak mau bersikap tidak konsisten. "Oke ... Anisa, kamu boleh memiliki Kalung ini. Tapi kembalikan kaos kaki yang kau pilih tadi. Dan karena harga kalung ini lebih mahal dari kaos kaki itu, Ibu akan potong uang tabunganmu untuk minggu depan. Setuju ?" Anisa mengangguk lega, dan segera berlari riang mengembalikan kaos kaki ke raknya. "Terimakasih..., Ibu" Anisa sangat menyukai dan menyayangi kalung mutiaranya.
Menurutnya, kalung itu membuatnya nampak cantik dan dewasa. Dia merasa secantik Ibunya. Kalung itu tak pernah lepas dari lehernya, bahkan ketika tidur. Kalung itu hanya dilepasnya jika dia mandi atau berenang. Sebab,kata ibunya, jika basah, kalung itu akan rusak, dan membuat lehernya menjadi hijau.
Setiap malam sebelum tidur, ayah Anisa membacakan cerita pengantar tidur. Pada suatu malam, ketika selesai membacakan sebuah cerita, Ayah bertanya "Anisa..., Anisa sayang Enggak sama Ayah ?" "Tentu dong... Ayah pasti tahu kalau Anisa sayang Ayah !" "Kalau begitu, berikan kepada Ayah kalung mutiaramu... "Yah..., jangan dong Ayah ! Ayah boleh ambil "si Ratu" boneka kuda dari nenek... ! Itu kesayanganku juga "Ya sudahlah sayang,... ngga apa-apa !". Ayah mencium pipi Anisa sebelum keluar dari kamar Anisa.
Kira-kira seminggu berikutnya, setelah selesai membacakan cerita, Ayah bertanya lagi, "Anisa..., Anisa sayang nggak sih, sama Ayah?" "Ayah, Ayah tahu bukan kalau Anisa sayang sekali pada Ayah?". "Kalau begitu, berikan pada Ayah Kalung mutiaramu." "Jangan Ayah... Tapi kalau Ayah mau, Ayah boleh ambil boneka Barbie ini.."Kata Anisa seraya menyerahkan boneka Barbie yang selalu menemaninya bermain.
Beberapa malam kemudian, ketika Ayah masuk ke kamarnya, Anisa sedang duduk di atas tempat tidurnya. Ketika didekati, Anisa rupanya sedang menangis diam-diam. Kedua tangannya tergenggam di atas pangkuan. air mata membasahi pipinya.
"Ada apa Anisa, kenapa Anisa ?" Tanpa berucap sepatah pun, Anisa membuka tangannya. Di dalamnya melingkar cantik kalung mutiara kesayangannya" Kalau Ayah mau...ambillah kalung Anisa" Ayah tersenyum mengerti, diambilnya kalung itu dari tangan mungil Anisa.
Kalung itu dimasukkan ke dalam kantong celana. Dan dari kantong yang satunya, dikeluarkan sebentuk kalung mutiara putih...sama cantiknya dengan kalung yang sangat disayangi Anisa..."Anisa... ini untuk Anisa. Sama bukan ? Memang begitu nampaknya, tapi kalung ini tidak akan membuat lehermu menjadi hijau". Ya..., ternyata Ayah memberikan kalung mutiara asli untuk menggantikan kalung mutiara imitasi Anisa.
Demikian pula halnya dengan Allah S.W.T. terkadang Dia meminta sesuatu dari kita, karena Dia berkenan untuk menggantikannya dengan yang lebih baik. Namun, kadang-kadang kita seperti atau bahkan lebih naif dari Anisa.
Menggenggam erat sesuatu yang kita anggap amat berharga, dan oleh karenanya tidak ikhlas bila harus kehilangan. Untuk itulah perlunya sikap ikhlas, karena kita yakin tidak akan Allah mengambil sesuatu dari kita jika tidak akan menggantinya dengan yang lebih baik.
Sumber : Daarut tauhiid
Rabu, 13 Januari 2010
2012
Karena sebuah Film, masyarakat menjadi heboh, Pemimpin Agama saling beragumentasi, semakin heboh beritanya, semakin banyak penontonnya, yang untung makin untung aja. Sebenarnya apasih hebatnya tahun 2012? Suku Maya boleh-boleh saja meramal bahwa tahun 2012 Masehi akan terjadi kegoncangan dimuka bumi ini, yang kemungkinan menciptakan Kiamat/Akhir Jaman. Disini saya hanya ingin menggambarkan sedikit tentang sejarah terjadinya “pembuatan” Tahun Masehi ini.
Tahun Masehi dimana dalam bahasa Latin disebut Anno Domini (Tahun Tuhan) yang disingkat AD. Sebelum adanya kalender Masehi, bangsa Romawi menggunakan kalender Julian yang dihitung dari masa kelahiran Julius Caesar. Yang mana bulan pada Kalender Julian sama persis dengan kalender Masehi. Tarikh awal tahun Masehi atau tahun 1 Masehi dihitung sejak tahun yang diyakini sebagai tahun kelahiran Isa Al Masih. Walaupun perhitungan dimulai dari tarikh kelahiran Isa Al Masih, perhitungan kalender Masehi sebenarnya baru dilakukan pada tahun 526 Masehi saat Dionisius Exiguus (seorang pejabat tinggi kepausan di Roma) yang diserahi tugas menyusun kalender gereja menetapkan perhitungan tahun Anno Domini berdasarkan dugaannya bahwa Isa Al Masih lahir 526 tahun sebelum saat itu.
Gereja Katolik yang menetapkan Kalender Masehi mengatur bahwa masa sebelum kelahiran Isa Al Masih dinamakan masa Sebelum Masehi (BC = Before Christ). Perhitungan tahun dilakukan mundur atau minus berdasarkan asumsi teologis bahwa Isa Al Masih ialah penggenapan dan pusat sejarah dunia.
Sebagai catatan sebenarnya dalam satu tahun Romawi awalnya hanya ada 10 bulan sahaja, yaitu : Martinus (Maret), Aprilis (April), Maius (Mei), Junius (Juni), Quintilis (Juli),Sextilis (Agustus), September, October (Oktober), dan November (Nopember). Kemudian pada tahun ke-44 BC dikenalkan bulan Juli sebagai penghormatan kepada Julius Caesar oleh Mark Anthony dan pada tahun ke-8 BC dikenalkan bulan Agustus sebagai penghargaan kepada Raja Augustus.
Pada saat Julius Caesar berkuasa terjadi kemelesetan 3 bulan dari patokan yang seharusnya.
Dalam kunjungannya ke Mesir tahun 47 SM, Julius Caesar sempat menerima anjuran dari para Ahli Perbintangan Mesir untuk perpanjangan tahun 46 SM menjadi 445 hari dan menambah 23 hari pada bulan Februari dan menambah 67 hari antara bulan November dan Desember.
Rupanya ini merupakan tahun pertama dalam sejarah, namun adanya kekacauan selama 90 hari itu, menyebabkan perjalanan tahun kembali cocok dengan musim.
Sekembalinya ke Roma, Juliaus Caesar mengeluarkan maklumat penting dan berpengaruh luas hingga kini, yaitu penggunaan system matahari dalam system penanggalan seperti yang dipelajari dari Mesir. Adapun isi keputusan adalah :
1. Setahun berumur 365 hari, karena bumi mengelilingi matahari selama 365, 25 hari, yang sebenarnya terdapat kelebihan 0.25 x 24 jam = 6 jam setiap tahunnya.
2. Setiap 4 tahun sekali, umur tahun menjadi 366 hari, yang disebut dengan Tahun Kabisat (sebagai penampungan dari kelebihan waktu 6 jam tadi, yaitu 6 jam x 4 = 24 jam atau 1 hari). Penampungan 1 hari pada tahun kabisat dimasukan dalam bulan Februari, yang biasa berusia 29 hari menjadi 30 hari ditahun kabisat.
Sebagai peringatan pada Julius Caesar dalam melakukan penyempurnaan tarikh itu, maka tarikh tersebut disebut tarikh JULIAN, dan mengganti bulan ke-5 yang semula Quintilis menjadi Julio (Juli). Dan untuk mengabadikan nama Kaisar Augustus yang memerintah setelah Julius Caesar, nama ke-6 Sextilis dirubah menjadi Augustus (Agustus). Perubahan tersebut diikuti dengan menambah usia bulan Augustus menjadi 31 hari, karena sebelumnya bulan Sextilis usianya hanya 30 hari saja. Penambahan itu diambil dari bulan Februari, sehingga sampai sekarang usia bulan Februari hanya 28 hari saja atau 29 hari pada tahun kabisat.
Tarikh Julian akhirnya memperlihatkan kemelesetan juga, apabila pada jaman Julius Caesar jatuhnya musim semi mundur hamper 3 bulan, kini musim semi justru dirasakan maju beberapa hari dari patokan. Akhirnya kemelesetan itu dapat diketahui sebabnya, yaitu kala revolusi bumi yang semula dianggap 365,25 hari, ternyata tepapnya 365 hari, 5 jam, 56 menit kurang beberapa detik (atau 1 bulan 1 bulan = 30,4368499 hari), jadi ada kelebihan menghitung 4 menit setiap tahun yang semakin lama semakin banyak jumlahnya.
Atas kemelesetan tersebut Paus Gregious XIII Pimpinan Gereja Katolik di Roma pada tahun 1582 melakukan koreksi dan mengeluarkan sebuah keputusan bulat yaitu :
1. Angka tahun pada abad pergantian (angka tahun yang diakhiri 2 nol) yang tidak habis dibagi 400, misalkan 1700, 1800, 1900, 2100 dsb, dianggap bukan lagi tahun kabisat (catatan: sehingga tahun 2000 yang habis dibagi 400 adalah tahun kabisat).
2. Untuk mengatasi keadaan darurat pada tahun 1582 itu diadakan pengurangan sebanyak 10 hari jatuh pada bulan Oktober, yang mana pada bulan Oktober tahun 1582 itu, setelah tanggal 4 Oktober langsung ke tanggal 14 Oktober.
3. Sebagai pembaharu terakhir Paus Regious XIII menetapkan 1 Januari sebagai Tahun Baru lagi, yang mana berarti pada perhitungan Rahib Katolik, Dionisius Exoguus tergusur. Tahun baru bukan lagi 25 Maret seiring dengan pengetikan Nabi Isa. AS lahir pada tanggal 25 dan permulaan musim semi pada bulan Maret.
Dengan keputusan tersebut diatas, khususnya yang menyangkut tahun kabisat, koreksi hanya akan terjadi setiap 3323 tahun, karena dalam jangka tahun 3323 tahun itu kekuarangan beberapa detik tiap tahun akan terkumpul menjadi satu hari, berarti bila tidak ada koreksi, tiap 3323 tahun jatuhnya musim semi maju satu hari dari patokan, dalam perkembangannya, tarikh masehi dapat diterima oleh seluruh dunia untuk perhitungan dan pendokumentasian waktu secara internasional.
Kembali pada perhitungan Dionisius Exiguus. Bahwa perhitungan yang dibuat Dionisius Exiguus itu sebenarnya dilandaskan pada naskah Injil Lukas yang menyatakan bahwa Isa Al Masih mulai berdakwah pada bangsa Yahudi sejak tahun ke-15 pemerintahan Kaisar Tiberius, yang bertahta dari tahun 60 Julian sampai 83 Julian (14-37 Masehi). Injil Lukas ternyata hanya main tebak dalam menyatakan usia Isa Al Masih saat itu, karena kalimat dalam Injil itu berbunyi quasi annorum triginta (kira-kira 30 tahun). Maka Dionisius Exiguus menetapkan tahun 47 Julian sebagai tahun 1 Masehi.
Apakah sebenarnya Dionisius Exiguus tidak memahami kitab Sucinya sendiri? Menjurus pada kedua Injil dalam Alkitab (Injil Lukas & Matius) yang mencatat bahwa kelahiran Isa Al Masih terjadi pada masa pemerintahan Raja Herod di Palestina (10 sampai 43 Julian). Yang mana berarti Isa Al Masih lahir antara tahun 37 SM dan 4 SM. Injil Lukas juga menyebut bahwa Isa al-Masih lahir saat Gubernur Suriah, Quirinius, mengadakan sensus penduduk di Palestina atas perintah Kaisar Oktavianus Augustus (memerintah tahun 27 SM-14 M). Pelaksanaan sensus ini berlangsung sesudah pengangkatan Quirinius tahun 6 SM (41 Julian). Jadi Isa Al Masih kemungkinan juga dilahirkan pada tahun 42 Julian (5 SM).
Maka terjadi selisih 5 tahun antara tahun masehi yang dibuat oleh Dionisius Exiguus dengan tahun masehi yang sesuai Injil Lukas dan Matius? Berarti Tahun ini kita memasuki Tahun 2015?
Dhasa Sila
Hasan Ali Ansar
“Bukan kehendak angan-angan, bukan ingatan, pikiran atau niat, hawa nafsu pun bukan, bukan pula kekosongan atau kehampaan. Penampilanku sebagai mayat baru, andai menjadi gusti jasadku dapat busuk bercampur debu, nafasku terhembus di segala penjuru dunia, tanah, api, air, kembali sebagai asalnya, yaitu kembali menjadi baru. Bumi langit dan sebagainya adalah kepunyaan seluruh manusia, manusialah yang memberi nama.”
Ngrame tapa ing panggawe Iguh dhaya pratikele Nukulaken nanem bibit Ono saben galengane Mili banyu sumili Arerewang dewi sri Sumilir wangining pari Sêrat Niti Mani. Wontên malih kacarios lalampahanipun Seh Siti Jênar, inggih Seh Lêmah Abang. Pepuntoning tekadipun murtad ing agami, ambucal dhatêng sarengat. Saking karsanipun nêgari patrap ing makatên wau kagalih ambêbaluhi adamêl risaking pangadilan, ingriku Seh Siti Jênar anampeni hukum kisas, têgêsipun hukuman pêjah. Sarêng jaja sampun tinuwêg ing lêlungiding warastra, naratas anandhang brana, mucar wiyosing ludira, nalutuh awarni seta. Amêsat kuwanda muksa datan ana kawistara. Anulya ana swara, lamat-lamat kapiyarsa, surasa paring wasita. Kinanti Wau kang murweng don luhung, atilar wasita jati, e manungsa sesa-sesa, mungguh ing jamaning pati, ing reh pêpuntoning tekad, santa-santosaning kapti. Nora saking anon ngrungu, riringa rêngêt siningit, labêt sasalin salaga, salugune den-ugêmi, yeka pangagême raga, suminggah ing sangga runggi. Marmane sarak siningkur, kêrana angrubêdi, manggung karya was sumêlang, êmbuh-êmbuh den-andhêmi, iku panganggone donya, têkeng pati nguciwani. Sajati-jatining ngelmu, lungguhe cipta pribadi, pusthinên pangesthinira, ginêlêng dadi sawiji,wijanging ngelmu jatmika, neng kaanan ênêng êning.
Hasan Ali Ansar
“Bukan kehendak angan-angan, bukan ingatan, pikiran atau niat, hawa nafsu pun bukan, bukan pula kekosongan atau kehampaan. Penampilanku sebagai mayat baru, andai menjadi gusti jasadku dapat busuk bercampur debu, nafasku terhembus di segala penjuru dunia, tanah, api, air, kembali sebagai asalnya, yaitu kembali menjadi baru. Bumi langit dan sebagainya adalah kepunyaan seluruh manusia, manusialah yang memberi nama.”
Ngrame tapa ing panggawe Iguh dhaya pratikele Nukulaken nanem bibit Ono saben galengane Mili banyu sumili Arerewang dewi sri Sumilir wangining pari Sêrat Niti Mani. Wontên malih kacarios lalampahanipun Seh Siti Jênar, inggih Seh Lêmah Abang. Pepuntoning tekadipun murtad ing agami, ambucal dhatêng sarengat. Saking karsanipun nêgari patrap ing makatên wau kagalih ambêbaluhi adamêl risaking pangadilan, ingriku Seh Siti Jênar anampeni hukum kisas, têgêsipun hukuman pêjah. Sarêng jaja sampun tinuwêg ing lêlungiding warastra, naratas anandhang brana, mucar wiyosing ludira, nalutuh awarni seta. Amêsat kuwanda muksa datan ana kawistara. Anulya ana swara, lamat-lamat kapiyarsa, surasa paring wasita. Kinanti Wau kang murweng don luhung, atilar wasita jati, e manungsa sesa-sesa, mungguh ing jamaning pati, ing reh pêpuntoning tekad, santa-santosaning kapti. Nora saking anon ngrungu, riringa rêngêt siningit, labêt sasalin salaga, salugune den-ugêmi, yeka pangagême raga, suminggah ing sangga runggi. Marmane sarak siningkur, kêrana angrubêdi, manggung karya was sumêlang, êmbuh-êmbuh den-andhêmi, iku panganggone donya, têkeng pati nguciwani. Sajati-jatining ngelmu, lungguhe cipta pribadi, pusthinên pangesthinira, ginêlêng dadi sawiji,wijanging ngelmu jatmika, neng kaanan ênêng êning.
Selasa, 03 November 2009
Nafsu
Kutumpahkan tinta diatas kertas putih
Kucurahkan segala gundah dalam hati
Denting jam pun bergema berulang kali
Tapi nafsu tak jua berhenti
Kantukpun hilang berbinar
Mataku terbelalak tak karuan
Jari jemariku bergerak tak terkira
Hingga tak sanggup kubendung
Begitu kacau, begitu murka
Begitu muak, begitu nista
Begitu amarah merambah sanubari
Begitulah adanya kejiku
Nafsu ini tiada henti
Semakin kulawan semakin membara
Akupun pasrah diseret geloranya
Biarpun apa yang terjadi nanti
Nafsu ini menghantuiku
Nafsu ini membelengguku
Nafsu ini membekapku
nafsu... nafsu... ooh nafsu...
Haaahhh...
Aku
tapi ia pergi tanpa rasa, tanpa iba
Aku merayu pada Sangkakala, tuk nyanyiannya hanya padaku
tapi ia pun berlalu tanpa pedulu pada hatiku
Aku bersandar pada Nasib, tapi ia pun menjauh
meninggalkan pedih dan perih didadaku
Aku berlari pada Langit, mengharap jawab atas semua tanyaku
tapi langitpun lenyap tanpa bekas, membuatku sendiri
Aku terdiam
Aku terpaku
Aku terperosok lagi dalam lembah tak berhujung
Apalagi.......
Apalagi yang harus kuperbuat
Seakan semua pergi
Seakan hina t'lah terpatri
dosakah?
salahkah?
kutukkah?
Semua keniscayaan ini tiada henti
Sampai kapan?
ntah sampai kapan???...
Rabu, 12 Agustus 2009
JIHAD
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُواْ وَالَّذِينَ هَاجَرُواْ وَجَاهَدُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ أُوْلَـئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللّهِ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
2.218. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berJihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Al-Baqarah (2) : 273
لِلْفُقَرَاء الَّذِينَ أُحصِرُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ لاَ يَسْتَطِيعُونَ ضَرْباً فِي الأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاء مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُم بِسِيمَاهُمْ لاَ يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافاً وَمَا تُنفِقُواْ مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللّهَ بِهِ عَلِيمٌ
2.273. (Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh Jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengatahui.
Al-'Imran (3) : 142
أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُواْ الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللّهُ الَّذِينَ جَاهَدُواْ مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ
3.142. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berJihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.
An-Nisa (4) : 95
لاَّ يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُوْلِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فَضَّلَ اللّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُـلاًّ وَعَدَ اللّهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ اللّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْراً عَظِيماً
4.95. Tidaklah sama antara mu'min yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai 'uzur dengan orang-orang yang berJihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berJihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berJihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar,
Al-Ma'idah (5) : 35
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَابْتَغُواْ إِلَيهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُواْ فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
5.35. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berJihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.
Al-Ma'idah (5) : 54
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ يَخَافُونَ لَوْمَةَ لآئِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
5.54. Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu'min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berJihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.
Al-Anfal (8) : 72
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَاهَدُواْ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَالَّذِينَ آوَواْ وَّنَصَرُواْ أُوْلَـئِكَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَالَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يُهَاجِرُواْ مَا لَكُم مِّن وَلاَيَتِهِم مِّن شَيْءٍ حَتَّى يُهَاجِرُواْ وَإِنِ اسْتَنصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ إِلاَّ عَلَى قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُم مِّيثَاقٌ وَاللّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
8.72. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berJihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi . Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
Al-Anfal (8) : 74
وَالَّذِينَ آمَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَاهَدُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَالَّذِينَ آوَواْ وَّنَصَرُواْ أُولَـئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقّاً لَّهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
8.74. Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berJihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (ni'mat) yang mulia.
Al-Anfal (8) : 75
وَالَّذِينَ آمَنُواْ مِن بَعْدُ وَهَاجَرُواْ وَجَاهَدُواْ مَعَكُمْ فَأُوْلَـئِكَ مِنكُمْ وَأُوْلُواْ الأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللّهِ إِنَّ اللّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
8.75. Dan orang-orang yang beriman sesudah itu kemudian berhijrah serta berJihad bersamamu maka orang-orang itu termasuk golonganmu (juga). Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
At-Taubah (9) : 16
أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تُتْرَكُواْ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللّهُ الَّذِينَ جَاهَدُواْ مِنكُمْ وَلَمْ يَتَّخِذُواْ مِن دُونِ اللّهِ وَلاَ رَسُولِهِ وَلاَ الْمُؤْمِنِينَ وَلِيجَةً وَاللّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
9.16. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berJihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
At-Taubah (9) : 19
أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللّهِ لاَ يَسْتَوُونَ عِندَ اللّهِ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
9.19. Apakah (orang-orang) yang memberi minuman orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidilharam kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta beJihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim .
At-Taubah (9) : 20
الَّذِينَ آمَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَاهَدُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِندَ اللّهِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ
9.20. orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berJihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.
At-Taubah (9) : 24
قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
9.24. Katakanlah: "jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNYA dan dari berJihad di jalan NYA, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.
At-Taubah (9) : 41
انْفِرُواْ خِفَافاً وَثِقَالاً وَجَاهِدُواْ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
9.41. Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berJihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
At-Taubah (9) : 44
لاَ يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ أَن يُجَاهِدُواْ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ وَاللّهُ عَلِيمٌ بِالْمُتَّقِينَ
9.44. Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berJihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa.
At-Taubah (9) : 73
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
9.73. Hai Nabi, berJihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya.
At-Taubah (9) : 81
فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلاَفَ رَسُولِ اللّهِ وَكَرِهُواْ أَن يُجَاهِدُواْ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَقَالُواْ لاَ تَنفِرُواْ فِي الْحَرِّ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرّاً لَّوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ
9.81. Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berJihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: "Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini". Katakanlah: "Api neraka jahannam itu lebih sangat panas(nya)" jika mereka mengetahui.
At-Taubah (9) : 86
وَإِذَا أُنزِلَتْ سُورَةٌ أَنْ آمِنُواْ بِاللّهِ وَجَاهِدُواْ مَعَ رَسُولِهِ اسْتَأْذَنَكَ أُوْلُواْ الطَّوْلِ مِنْهُمْ وَقَالُواْ ذَرْنَا نَكُن مَّعَ الْقَاعِدِينَ
9.86. Dan apabila diturunkan suatu surat (yang memerintahkan kepada orang munafik itu): "Berimanlah kamu kepada Allah dan berJihadlah beserta Rasul-Nya", niscaya orang-orang yang sanggup di antara mereka meminta izin kepadamu (untuk tidak berJihad) dan mereka berkata: "Biarkanlah kami berada bersama orang-orang yang duduk" .
At-Taubah (9) : 87
رَضُواْ بِأَن يَكُونُواْ مَعَ الْخَوَالِفِ وَطُبِعَ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لاَ يَفْقَهُونَ
9.87. Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak berperang , dan hati mereka telah dikunci mati maka mereka tidak mengetahui (kebahagiaan beriman dan berJihad).
At-Taubah (9) : 88
لَـكِنِ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ مَعَهُ جَاهَدُواْ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ وَأُوْلَـئِكَ لَهُمُ الْخَيْرَاتُ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
9.88. Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berJihad dengan harta dan diri mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
At-Taubah (9) : 90
وَجَاء الْمُعَذِّرُونَ مِنَ الأَعْرَابِ لِيُؤْذَنَ لَهُمْ وَقَعَدَ الَّذِينَ كَذَبُواْ اللّهَ وَرَسُولَهُ سَيُصِيبُ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
9.90. Dan datang (kepada Nabi) orang-orang yang mengemukakan 'uzur, yaitu orang-orang Arab Baswi agar diberi izin bagi mereka (untuk tidak berJihad), sedang orang-orang yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya, duduk berdiam diri saja. Kelak orang-orang yang kafir di antara mereka itu akan ditimpa azab yang pedih.
At-Taubah (9) : 91
لَّيْسَ عَلَى الضُّعَفَاء وَلاَ عَلَى الْمَرْضَى وَلاَ عَلَى الَّذِينَ لاَ يَجِدُونَ مَا يُنفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُواْ لِلّهِ وَرَسُولِهِ مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِن سَبِيلٍ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
9.91. Tiada dosa (lantaran tidak pergi berJihad) atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,
An-Nahl (16) : 110
ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ هَاجَرُواْ مِن بَعْدِ مَا فُتِنُواْ ثُمَّ جَاهَدُواْ وَصَبَرُواْ إِنَّ رَبَّكَ مِن بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ
16.110. Dan sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berJihad dan sabar; sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Al-Hajj (22) : 78
{س} وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِّلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمينَ مِن قَبْلُ وَفِي هَذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيداً عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاء عَلَى النَّاسِ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ
22.78. Dan berJihadlah kamu pada jalan Allah dengan Jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu , dan (begitu pula) dalam (Al Qur'an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.
Al-Furqan (25) : 52
فَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُم بِهِ جِهَاداً كَبِيراً
25.52. Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berJihadlah terhadap mereka dengan Al Qur'an dengan Jihad yang besar.
Al-Ankabut (29) : 6
وَمَن جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
29.6. Dan barangsiapa yang berJihad, maka sesungguhnya Jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.
Al-Ankabut (29) : 69
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
29.69. Dan orang-orang yang berJihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.
Muhammad (47) : 31
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ
47.31. Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berJihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.
Al-Hujuraat (49) : 15
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُوْلَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
49.15. Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berJihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.
Al-Mumtahana (60) : 1
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاء تُلْقُونَ إِلَيْهِم بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءكُم مِّنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ أَن تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ رَبِّكُمْ إِن كُنتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَاداً فِي سَبِيلِي وَابْتِغَاء مَرْضَاتِي تُسِرُّونَ إِلَيْهِم بِالْمَوَدَّةِ وَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا أَخْفَيْتُمْ وَمَا أَعْلَنتُمْ وَمَن يَفْعَلْهُ مِنكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاء السَّبِيلِ
60.1. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berJihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.
As-Saff (61) : 11
تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
61.11. (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berJihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
Senin, 29 Juni 2009
CAHAYA YANG MENYIKSAKU

Berawal dari kesendirianku dibawah bayang-bayang temaran
Mataku sekilas merengkuh silaunya dari jauh
Silaunya membutakan hatiku
Menyisakan sembilu yang tertahan
Perlahan kucoba untuk berdiri
Mencari celah gelap diantara sinaran
Tapi tak kunjung jua ku beranjak
Sementara rasa ini sudah tak tertahankan
Pedih, perih, penat, putus asa
Tapi kembali kucoba lagi
Sementara lambaian itu mendekat
Suara-suara yang dating memecah keheningan
Menusuk telingaku
Membutakan mataku
Membekap mulutku
Mencekik leherku
Menekan dadaku
Meremas jantungku
Menghentikan semua peredaran darahku
Aku kembali terpuruk
Asa kembali melayang
Gelapku pergi melambung tinggi
Seiring jiwaku yang kembali terpuruk
Terpaku dalam silau cahaya yang menyiksaku
Minggu, 21 Juni 2009
TAK PERNAH LEBIH
Senin, 18 Mei 2009
Berpikir Bijak
Akhirnya pagi itu ku berangkat ketempat penjual bunga, tidak jauh memang. Pagi ini memang mendung, sang penjual rada santai. “Pak ada paranet?” tanyaku. “Adam Mas, tapi dirumah. Mau menunggu saya ambilkan?” “Boleh” jawabku singkat. Sambil menunggu sang penjual pulang. Aku melihat-lihat dagangannya yang lain. Ngak ada Anggrek kataku dalam hati. Eh ada pupuk nich, pupuk apa saja sich? Ohw, ada cairan penghilang stress buat kembang yang sedang sakit, berpindah tempat, dan lain-lain. Ada juga cairan vitamin yang bisa buat warna bunga menjadi cerah, yang ini khusus buat anggrek emang. Nah ada penyemprot yang lumayan besar nich, sepertinya murah juga.
Selang beberapa saat datanglah penjual tadi. Setelah memotong paranet sesuai dengan pesananku. Aku mulai bertanya-tanya tentang cairan-cairan pupuk tadi. Setelah bernegosiasi sedikit (lagunya, maksudnya tawar menawar harga) lazim mah kalau di Indonesia, harga yang ditawarkan bisa ditawar lagi. Eh, berhasil dewh. Dengan semangat jual-beli berhasil dilaksanakan. Penjual tadi senang rupanya, karena aku membeli semakin banyak, aku pun senang karena modal tidak habis, malah nambah barang yang dibeli.

Setelah sampai rumah, akhirnya jadi juga dewh paranet tuh dipasang. Tak lupa menyemprot anggrek-anggrekku dengan Vitamin yg baru saja kubeli. Setelah bersantai, aku berpikir dengan uang yang jauh lebih sedikit ketimbang membeli ayam kampung (yang emang kampungan tadi) aku tidak saja melindungi anggrekku dari ayam tetangga, tapi malah bisa memberikan lebih buat mereka. Vitamin penghilang stress misalnya. Betapa stressnya anggrek-anggrek tersebut setelah diacak-acak ayam. Aku tersenyum, betapa indahnya bila saja aku bisa selalu berpikir tenang & jernih lagi bijak.
Rabu, 15 April 2009
SANG ARJUNA
Maka melihat merekalah sang Arjuna dan iapun terliputi rasa, kasihan sebab musuh-musuhnya bukanlah orang asing. Ada sanak saudara dari pihak ayah maupun ibu, dan juga paman-paman seperti Krepa, Salya, Bisma dan gurunya (Bhagawan Drona).
Oleh sebab itu, ia lalu berbicara kepada prabu Kresna, meminta supaya ia menghentikan peperangan, karena kasihan melihat para Korawa. Akan tetapi sang Janardana (Kresna) menyuruhnya tetap berperang sebab seseorang yang dianggap sebagai ksatria tidaklah diperbolehkan mengundurkan diri dari peperangan.
Senin, 13 April 2009
PUTIH
SEPASANG KEKASIH DUNIA
"Ya Tuhan kami. Berikan kami kekuatan dan umur panjang untuk meneruskan hidup ini dan memiliki keturunan yang baru. Amien"
Kadang kita memaksakan kehendak diri, yang tak lebih dari penolakan atas takdir dan kehendak. Padahal setelah itupun Tidak ada apa-apa.... Lalu untuk apa harus ada????
Senin, 23 Maret 2009
Siapa Sahabat Mu??
Ada yang menggelitik saya saat ini. Ada seorang teman yang berkomentar bahwa untuk naik menjadi orang "penting" harus "pandai". Pandai memilih waktu yang tepat untuk dekat dengan atasan. Pandai memilih situasi yang tepat untuk berada didekatnya. Ada juga yang berkomentar bahwa selain pintar kita juga musti punya "bubuhan". Dalam artian harus punya saudara/temen dekat dengan orang-orang yang diatas. Banyak ragam komentar mereka.
Menarik memang bagi saya, ini sebuah "Fenomena". Bagi saya ini bisa berarti sebuah catatan yang cukup berarti. Tapi ada yang menyentuh saya. Bahwa ada "sedikit" kesalahan yang musti diperbaiki. Muncullah pertanyaan "Apakah dengan ini kita bisa bersikap Profesional dan Proporsional?" Padahal sikap Profesional dan Proporsional katanya modal besar untuk menjadi Pimpinan.
Mungkin ada benarnya komentar teman-teman saya tadi (sebab saya juga tidak menyalahkan komentar-komentar tadi). Tapi ada sebagian diri saya yang membantahnya. Bukan dalam artian menolak! Tapi lebih dalam dalam hal meluruskan atau menambah Prespektif mereka saja. Memberikan masukan dan suasana lain akan keadaan ini.
Bubuhan atau Sahabat tadi mustinya dapat dijabarkan lebih luas oleh mereka. Menarik kebelakang apa dibalik Sahabat? Bahwasannya bukan Sahabat itu sendiri yang berperan penting akan keadaan kita. Tapi ada "SUATU" yang lain, yang sesungguhnya "DIALAH" pencetus segalanya.
Bagi saya ALLAH SWT adalah TUHAN atas segala sesuatu yang ada dimanapun adanya.
Bagaimana ALLAH menjadi Pegatur segalanya!!!
Saya teringat bagai mana seorang AIDH ABDULLAH AL QORNI menjadi begitu terkenal dengan bukunya "LA TAHZAN"? Bagai mana seorang HENDRA SETIAWAN melampiaskan hasratnya dalam buku yang menjadi Best Seller? (50.000 buku terjual)
Dan apakah kalian mengetahui siapa sesungguhnya yang membuat sehingga mereka yang naik jabatan tadi dapat mempunyai bubuhan/sahabat yang "menentukan" kelancaran naiknya mereka?
Usaha mereka? Mungkin saja ia, tapi siapa yang menetukanya?
Sampai disini saya bertambah yakin ALLAH SWT adalah "dalang" disebalik semua ini. Saya harus lebih dekat lagi terhadap DIA. Karena dengan kemauan NYA maka akan berdatangan sahabat-sahabat yang pantas buat saya.
Ini bukan hanya bualan orang-orang sedih dan terluka. Tapi nyata adanya!
Saya memang sedang jatuh dan hendak bangun berdiri. Tidak memiliki pegangan yang pasti. Sejak keluar dari Rumah Sakit, saya hanya mencoba mendekatkan diri kepada Apa yang kemudian terjadi?
Begitu saya masuk kembali bekerja (tentunya dengan kehendak NYA) banyak Sahabat yang menghampiri saya. Memang tidak semua orang "Sahabat" saya. Tapi setidaknya ada!
Kalau Aidh Abdullah al Qorni bersahabat dengan Buku-buku dan Kesediahannya, si Hendra Setiawan bersabat dengan kawan-kawan Masjidnya. Saya juga bersahabat dengan orang-orang baik dan buku-buku yang bagus!
Merekalah yang menuntun saya selama ini. Memberitahu, memperingatkan, menyemangati, menjaga dan menjernihkan apa pun yang saya pikir, kehendaki dan kejadian ini.
Tuhan telah berkehendak, jalan apapun itu adalah takdir NYA!
Ingatlah:
Ketahuilah sesungguhnya andaipun seluruh umat manusia itu berkumpul untuk memberikan manfaat kepada dirimu berupa sesuatu, niscaya pastinya mereka tidak akan mampu memberikan manfaat kepada dirimu selain berupa sesuatu yang telah ditetapkan ALLAH bagi dirimu.
Dan, seandainya mereka semua berkumpul berkehendak untuk mencelakakan dirimu dengan sesuatu, niscaya pastinya mereka tidak akan mampu mecelakakan dirimu kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan ALLAH atas dirimu.
Percayalah sesungguhnya, seluruhnya hanya kepada ALLAH SWT!!!
Selasa, 17 Maret 2009
Aku, sang "Pangeran", dan Golongannya
Sang “Pangeran” datang dengan golongannya
Bersama kaumnya ia bercerita selaksa pujangga
Berjalan dengan gagah laksana ksatria pemberani
Dengan kendaraan seakan paling sempurna
Berjubah serba gemerlap
Berhias permata intan berlian
Bermahkotakan kilauan rubi nan elok
Bermain dengan koin-koin emas “mu”
Sambil menyantap masakan nan lezat engkau bercanda
Engkau angkat cangkir-cangkir memabukanmu
Dalam berbagai cerita indahmu
Engkau fikir siapa sesungguhnya dirimu?!
Tak tahukah bahwa bahasa dan suaramu
Lebih rendah dari suara keledai??
Tak tahukah nada-nadamu adalah anak panah tak berperi
Kegagahan mu tanda dari semua kehinaan mu
Kendaraan dan perhiasan mu juga mengungkapkan
Makanan dan minuman lezat nan memabukan
Bukanlah laksana surga adanya yang kau rasa
Betapa rendah dan nistanya dirimu
Tak tahukah engkau?!
Semua yang kau miliki sesungguhnya bukan milik mu!!
Tak malukah engkau?!
Setiap yang kau miliki terdapat hak orang lain!!
Engkau dan kaummu sama saja!
Aku beritahu atau pun tidak
Apakah engkau tak sadar?!
Aku, engkau, kaummu, dan kita semua
Adalah tetesan air hujan
Begitu banggakah engkau akan tetesan itu??!
Tak kah engkau ketahui tentang luasnya samudera??!!
Apakah engkau dapat menandinginya??
Hanya karena tetesmu nampak lebih berkilau??
Tahukah bahwa kemilau itu semu??
Takkala sang surya kembali keperaduan
Takkala rembulan menyapa
Semua binar-binar cahayamu akan lenyap
Ditelan kelamnya malam nan mencekam
Akan kah kau kira keabadian akan menyertaimu??
Ha….ha….ha….
Aku tertawa dihujung bibirku
Siapa yang harus kutertawakan??
Nikmat suciku??!!
Atau cobaan nikmatmu??!!
Hik….Hik….Hik….
Aku pun menangis dihujung tawaku
Sebenarnya siapa yang harus kutangisi??
Nasibku??!!
Atau ceria mu??!!
Bersama sang angin aku bercerita
Menumpahkan cerita ini sambil berharap
Tapi sang angin malah diam tak bergeming
Sementara suara mu makin membumbung tinggi
Suaraku tak kunjung beranjak
Bersama tanah kering yang berbatu tajam aku tertinggal
Kelu lidahku,
Perih hatiku
Nanar tatapanku
Pahit rasanya
Apa yang harus kukejar????!!!!
Sementara napasku sudah habis terkuras
Waktu ini semakin lambat berputar
Sementara sang Surya makin terik menggilasku
Aku semakin penat dalam kebimbangan
Kadang hati menyemangati, tapi kadang serasa menikamku
Aku hanya bisa diam, diam, dan diam
Menunggu rembulan menggapai jiwaku.
Semua adalah kehendak NYA!!
Dan, seandainya mereka semua berkumpul berkehendak untuk mencelakakan dirimu dengan sesuatu, niscaya pastinya mereka tidak akan mampu mecelakakan dirimu kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan ALLAH atas dirimu.
Mengapa sebuah musibah harus menghimpit dadaku??
Padahal di sisi ALLAH telah tertulis kabajikannya bagi diriku!
Kadang ALLAH menganugerahiku nikmat berupa cobaan, walaupun sangat berat adanya.
Dan, telah menguji sebagian kaum manusia yang lain dengan nikmat!
Sesungguhnya! ALLAH akan memberikan naungan kepada jiwaku yang merindukan NYA, dan akan memberikan perlindungan kepada diriku yang menginginkannya.
Ya ALLAH jadikan aku ridho dan ikhlas dalam setiap ketetapan MU, hingga sadarku memenuhi jiwaku, apa yang telah terlulis untukku datang menyapaku dan yang yang tak tertulis untukku pergi menjauhiku.
Engkau Sakit??!!
Sesungguhnya kesabaran itulah obat yang sesungguhnya.
Ingatlah!
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. ALLAH mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (QS. Al-Baqarah:216).
ALLAH tidak pernah mencabut sesuatu dari anda, kecuali Dia menggantinya dengan yang lebih baik (bersabar dan ridha lah).

